RSS Feed

Buruh: Sekrup, Mesin, atau Partner?

executed by canon powershot s70 and adobe photoshop cs3

Cara pandang seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh wawasan, karakter, dan kepentingan. Begitu juga cara seseorang memandang eksistensi buruh.

Sebagian orang menganggap buruh sebagai sekrup kecil pelengkap bangunan sebuah mesin besar penghasil barang. Buruh, dalam pandangan seperti ini, sering menjadi tidak tampak perannya. Dengan kata lain, eksistensinya nyaris seperti gaib. Jika satu sekrup hilang, sangat mudah mencari sekrup pengganti. Harganya pun sangat murah.

Ada juga yang memandang buruh sebagai mesin. Eksistensi buruh relatif cukup terlihat dalam pandangan ini. Sebab, posisi buruh sejajar dengan mesin produksi. Jika mesin ngadat, proses produksi tentu terganggu. Agar mesin lancar putarannya, maka perawatan harus dilakukan teratur. Minimal, harus sering cek dan ganti minyak pelumas.

Beberapa orang memandang buruh sebagai rekan kerja. Cara pandang ketiga ini lebih manusiawi dibandingkan cara pandang pertama dan kedua. Biasanya, pandangan ini muncul di kalangan para pengusaha bidang seni terapan, semisal biro iklan, rumah produksi, dan media massa.

Cara pandang pertama dan kedua lazim kita temui dalamĀ  industri barang, seperti produksi paku, sepatu, atau pembalut wanita. Akan tetapi, ini bukan rumus pasti. Sebab, ada juga perusahaan pembuat barang yang memandang buruh-buruhnya dengan cara pandang ketiga.

Sebaliknya, tidak semua perusahaan seni terapan memandang buruh mereka dengan cara pandang ketiga. Sangat mungkin, eksistensi buruh dalam perusahaan seni terapan dipandang tak ubahnya seperti mesin juga. Terutama, jika membuat seni terapan sudah dianggap sama saja seperti membuat paku atau pembalut wanita.

Sekali lagi, cara pandang terhadap buruh sangat ditentukan oleh wawasan, karakter, dan kepentingan si pemandang. ^_^

Catatan Kecil Tentang Teater

teater jakarta chair (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Teater adalah salah satu bentuk media komunikasi. Dan sebagai media komunikasi, teater harus mempertimbangkan komunikannya.

Karena itu, wujud pementasan teater cukup beragam. Ada yang isinya membuat orang berpikir, merenung, bahkan bingung karena sarat simbol dan metafora. Ada juga yang nyaris menjadi seperti panggung lawak karena terlalu ingin membuat penonton tertawa.

Sebagai media komunikasi, teater pasti mengusung sebuah pesan. Dalam situasi dan kondisi tertentu, teater dimanfaatkan sebagai media penyampai kritik dan protes. Kadang, teater menjadi corong penyuluhan pemerintah. Seringkali, teater menjadi sekadar media hiburan.

Tren teater hari ini, menurutku, sepertinya cenderung memosisikan diri sebagai media hiburan.Teater harus menghibur. Sebab, jika tidak demikian, ia harus siap ditinggal penonton.

Itulah sebabnya, teater hari ini harus bisa mengakomodir keinginan penontonnya. Harus ada inovasi. Harus kompromi dengan teknologi.

Jadi, tak usah heran, jika panggung teater hari ini penuh dengan sorotan sinar laser, sistem hidrolik yang serba otomatis, set panggung yang diprogram dengan komputer, dan sound sistem yang … wah!

Jangan heran juga, jika gedung teater pun harus sesuai gaya hidup zamannya. Ruang yang terang, bersih, dan harum. Penonton harus berbusana yang “pantas”, tidak boleh membawa makanan, bahkan tidak boleh memotret. Penonton juga harus siap membayar tiket pertunjukan yang nilainya mencapai ratusan ribu rupiah.

Harga tiket memang menyesuaikan target marketnya. Teater hari ini termasuk jenis tontonan elit. Makna elit, dulu, menunjuk pada orang-orang yang pintar. Sekarang, selain pintar, juga berduit. Bagaimana bisa bayar tiket mahal kalau enggak punya duit?

Ini adalah perkembangan zaman. Tak perlu meratapinya. Siapa tak mau mengikuti perubahan, ia akan tergilas dan tertinggal. Realistislah, Bung!

Meskipun, ya… kadang, aku kangen pada pentas teater yang bersahaja: panggung kecil dengan lampu spot dan properti minimalis, yang hangat, dan isinya tidak terlalu ngepop. ^_^

Bolu Tape

“bolu tape” (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Bolu tape. Kue berbahan utama tepung, telur, margarin, dan tape ini memiliki arti tersendiri buatku.

Bagiku, bolu tape bukan sekadar kue kukus legit yang ujung-ujungnya bikin kenyang perut.

Bagiku, bolu tape adalah rekaman sejarah. Di dalamnya ada cinta, kasih sayang, dan romantisme suasana hangat tanpa beban masalah.

Sebab, saat gigiku menggigit tekstur bolu yang lembut, saat lidahku bersentuhan dengan rasa tape yang khas, otakku otomatis memanggil kembali rekaman kehidupanku tempo dulu. Bolu tape seakan merupakan piringan hitam yang, ketika aku menyantapnya, otomatis memutar tembang lama.

Di sana, ada ibuku yang dengan sangat sabar, dengan cintanya yang besar, mengaduk adonan bolu ini. Sebab, ibu tahu, beliau sadar, sedang membuatkan buah hatinya salah satu makanan favoritnya. Ibu tahu, aku akan girang bukan kepalang begitu aroma harum bolu yang khas ini tercium olehku.

Sekarang, kesaktian ibu telah menurun pada istriku, kekasihku, orang yang dengan kasih sayang, pengabdian, dan cintanya yang besar menyempatkan diri membuatkanku bolu tape. Ia tahu, sebagaimana ibuku tahu, aku menggemari bolu tape.

Itulah kenapa, bolu tape memiliki arti tersendiri buatku. Ia menghadirkan kembali masa-masa indah hidup tanpa beban masalah. Ia menghadirkan sisi-sisi indah masa kecilku…. ^_^

Waroeng: Terus Melawan Sampai Mati

Warung Pak Wandi, Kebon Jeruk, Jakbar (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Entah, sampai kapan warung-warung seperti ini mampu bertahan di tengah gempuran mini dan supermarket yang cenderung membabi buta. Menurut data Nielsen, jumlah minimarket yang tumbuh di Indonesia pada tahun 2010 saja mencapai 42%. Edian tenan!

Sebenarnya, enggak ada yang salah juga dengan makin banyaknya minimarket (tapi tidak dengan supermarket). Sebab, secara cashing dan estetika, minimarket terlihat lebih rapi. Secara kenyamanan belanja dan kepastian harga, mereka lebih menjanjikan. Tapi, kalo mau bicara soal tepo seliro dan empati, melihat nasib warung-warung sekarang ini, rasanya prihatin.

Sebab, bicara warung adalah bicara soal salah satu cara rakyat kecil bertahan hidup. Bicara soal nasib rakyat kecil, itu artinya bicara soal saya dan, mungkin, Anda. Bisa jadi, lahirnya warung adalah karena si pendiri tidak punya pilihan kerja lain yang lebih baik, kecuali dengan bikin warung itu.

Memang dilematis. Di satu sisi, kita ingin melindungi periuk saudara-saudara kita. Di sisi lain, kita mendambakan kenyamanan dan kepastian dalam berbelanja. Iyo po ora…?

Anda punya solusi?

Berteori dan beranalisa tentu gampang: berdayakan para pemilik warung kecil sehingga mereka mampu meningkatkan daya saing dengan warung-warung modern (baca: minimarket). Usulan solusi seperti ini kalau tidak disertai detail rancangan kerjanya pasti hanya akan menjadi slogan kosong. Mungkin teman Anda akan komentar: “Prek, su! Ra cangkeman thok!”

Mari, kita masing-masing mengamati, akan seperti apa perkembangan dinamika per-warung-an di negara tercinta kita ini.

Bersyukurlah Sampeyan yang tinggal di kampung-kampung udik. Warung sampeyan relatif masih aman dari gilasan mesinĀ  kapitalis. Meskipun itu bukan jaminan juga. Sebab, bahkan di kaki gunung Suku Baduy pun sudah tumbuh minimarket.

Silakan Anda buktikan sendiri. Datanglah Anda ke Ciboleger, Rangkas Bitung, Jawa Barat. Dekat perbatasan Suku Baduy itu, akan Anda temui sebuah minimarket yang dingin dan terang benderang. Andai adat Baduy tidak melarang berdirinya bangunan asing, mungkin minimarket itu akan masuk pula sampai ke jantung kampung Suku Baduy.

Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan warung-warung kecil kita? Tanpa pembinaan nyata, tak ada pilihan lain bagi mereka, kecuali bertahan sampai mati….

My Fake Instagram

Gelas di kantor. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Instagram sedang menjadi trend. Foto dengan warna “meleset” itu berhasil memikat perhatian banyak orang. Aku salah satunya.

Tukang cukur. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Instagram menawarkan nuansa yang khas, yang retro, dan, karena itu, buatku, romantis. Aku pun jatuh hati setengah mati. Sayang, kehendak hati tak didukung kemampuan isi dompet. Wal hasil, memotret dengan piranti yang dapat menghasilkan instagram hanya berhenti sebagai angan-angan belaka. Itu pada mulanya.

Kamera yang sampai hari ini setia menemaniku adalah Canon PowerShot S70 dan Blackberry 9700. Masa, sih, mau bikin instagram saja harus beli alat yang mahal? Rasanya sayang banget duitnya.

Aku pikir, kalau berhubungan dengan olah digital, Adobe Photoshop pun mestinya bisa diberdayakan. Pasti bisa, nih, bikin efek instagram dengan bung Adobe ini.

Senja merona. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Iseng-iseng aku cari info di internet. Hopla! Ternyata mudah sekali. Rupanya, banyak juga orang sepertiku: berhasrat instagram, tapi zonder alat resminya. Mereka ini lalu membuat langkah olah digital untuk mendekati efek instagram asli. Not too bad. Okenya lagi, mereka simpan langkah-langkah itu menjadi action yang dapat di-load dalam Adobe Photoshop. Mantafs!

Aku rasa, aku harus berterima kasih pada orang-orang yang sudah susah payah merancang action instagram untuk Adobe Photoshop. Usaha mereka mempermudah pekerjaanku.

Action-action mereka ini ibarat bahan baku yang tinggal aku campur-campur dan takar-takar kadarnya sehingga menghasilkan foto instagram seperti yang kukehendaki. Sekali lagi, not too bad!

Dan… seperti inilah hasil instagram palsu olahanku. Hope you like them! ^_^

Dalam lift. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Ndilat banyu. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Vote Gado Gado

Vote gado gado sebagai makanan strategis rakyat jelata! (executed by Blackberry and Adobe Photoshop Cs3)

Di tengah maraknya makanan instant dan makanan impor, gado gado masih tetap menjadi favorit masyarakat. Saya salah satunya.

Penyuka gado gado bisa memiliki alasan berbeda-beda kenapa menyukai makanan ini. Saya sendiri memilih gado gado lebih karena faktor keseimbangan nutrisi. Baik nutrisi badan atau nutrisi dompet. :p

Gado gado menjadi semacam oase yang merehatkan perut dari gempuran makanan sarat kolesterol dan unsur-unsur jahat. Biasanya, demi alasan kepraktisan dan rasa yang “nendang” (karena unsur penyedap rasa), saya pribadi cenderung memilih makanan praktis semisal cap cay goreng, mie ayam, sate, atau makanan rumahan zonder sayuran hijau berserat.

Dengan adanya gado gado, kekhawatiran saya terhadap melonjaknya kadar kolesterol dan unsur-unsur jahat lainnya, sedikit teredakan. Meskipun, tak ada jaminan juga bahwa gado gado yang saya santap benar-benar higienis. Namun, setidaknya, keyakinan saya membuat kecemasan menurun.

Bergizi, enak, dan murah. (executed by blackberry and adobe photoshop cs3)

Komposisi gado gado terdiri dari berbagai sayuran segar. Memasaknya pun cukup direbus. Unsur yang digoreng, semisal tahu dan tempe, tidak mendominasi di sana. Kalau toh digoreng, itu pun tidak terlalu kering. Jadi, cukup dapat diharapkan bahwa kadar kolesterolnya minim. Karena itulah, gado gado adalah pilihan bijaksana bagi mereka yang ingin makanan alternatif.

Selain gado gado, pecel adalah favorit saya yang lain. Keduanya memiliki persamaan dalam hal bumbu: sama-sama menggunakan saus kacang tanah yang gurih.

Faktor kesehatan dan komposisi nutrisi memang faktor penting dalam memilih gado gado sebagai favorit. Namun, faktor ekonomis juga tak dapat diabaikan. Dalam kondisi tertentu, misal tanggal tua, justru faktor ekonomis inilah yang menjadi pendorong utama memilih gado gado. Apalagi, menyantap gado gado kombinasi lontong, terbukti (pada diri saya) mampu membuat perut terasa berisi terus dari siang hingga sore hari. Sungguh, gado gado adalah makanan yang strategis.

Dengan berbagai latar belakang di atas, rasanya cukup layak jika saya usulkan: vote gado gado sebagai makanan strategis rakyat jelata! ^_^

Efek Angin Pancaroba

Shut Your Television Down!

Jakarta Daily Roadrace

The Art of Ndilat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.