Cara pandang seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh wawasan, karakter, dan kepentingan. Begitu juga cara seseorang memandang eksistensi buruh.
Sebagian orang menganggap buruh sebagai sekrup kecil pelengkap bangunan sebuah mesin besar penghasil barang. Buruh, dalam pandangan seperti ini, sering menjadi tidak tampak perannya. Dengan kata lain, eksistensinya nyaris seperti gaib. Jika satu sekrup hilang, sangat mudah mencari sekrup pengganti. Harganya pun sangat murah.
Ada juga yang memandang buruh sebagai mesin. Eksistensi buruh relatif cukup terlihat dalam pandangan ini. Sebab, posisi buruh sejajar dengan mesin produksi. Jika mesin ngadat, proses produksi tentu terganggu. Agar mesin lancar putarannya, maka perawatan harus dilakukan teratur. Minimal, harus sering cek dan ganti minyak pelumas.
Beberapa orang memandang buruh sebagai rekan kerja. Cara pandang ketiga ini lebih manusiawi dibandingkan cara pandang pertama dan kedua. Biasanya, pandangan ini muncul di kalangan para pengusaha bidang seni terapan, semisal biro iklan, rumah produksi, dan media massa.
Cara pandang pertama dan kedua lazim kita temui dalamĀ industri barang, seperti produksi paku, sepatu, atau pembalut wanita. Akan tetapi, ini bukan rumus pasti. Sebab, ada juga perusahaan pembuat barang yang memandang buruh-buruhnya dengan cara pandang ketiga.
Sebaliknya, tidak semua perusahaan seni terapan memandang buruh mereka dengan cara pandang ketiga. Sangat mungkin, eksistensi buruh dalam perusahaan seni terapan dipandang tak ubahnya seperti mesin juga. Terutama, jika membuat seni terapan sudah dianggap sama saja seperti membuat paku atau pembalut wanita.
Sekali lagi, cara pandang terhadap buruh sangat ditentukan oleh wawasan, karakter, dan kepentingan si pemandang. ^_^














